Novel Atheis: Potret Kegelisahan Sosial dan Intelektual “Pemuda Jaman Old”



Sebenarnya saya agak risih juga tiap melihat judul artikel atau postingan seseorang yang menggunakan istilah “kids jaman now” atau sejenisnya. Gelisah juga jika bahasa dicampur-campur itu menjadi trend diantara para penulis berita maupun netizen. Namun seiring berjalannya waktu akhirnya saya ikut-ikutan juga pakai istilah itu dalam tulisan. Termakan propaganda..hehe

Kegelisahan yang sama mungkin juga dirasakan juga oleh Hasan, tokoh utama dalam novel Atheis, karya Achdiat K. Miharja. (kalau dilihat dibagian paling belakang novel ini, ternyata beliau adalah kakek dari mantan VJ MTV, Jamie Aditya). 

Novel yang merupakan potret kegelisanan sosial dan intelektual "pemuda jaman old" ini berlatar tahun 1930-an sampai masa pendudukan Jepang di Indonesia. Potret dimana pada saat itu pemikiran ideologi dan stelsel itu sangat kental terasa. Mulai dari feodal, borjuis, kapilatis, nasionalis, agamis maupun materialis komunis.

Bercerita tentang Hasan yang berasal dari keluarga feodal dan penganut ajaran tarekat bertemu dengan Rusli teman sebayanya waktu kecil yang mengagumi ajaran Karl Marx dan Friedrich Englels.

Pertemuan terjadi secara sederhana, saat itu Hasan sedang menjaga loket bagian jawatan air Kotapraja Bandung, bertemu dengan Rusli dan Kartini.
Kartini diceritakan merupakan “adik” dari Rusli, seorang wanita yang memiliki pengalaman pahit, ketika remaja dipaksa keluar dari sekolah. Ibunya memaksa kawin untuk  jadi istri ke empat Arab tua bangka, semata-mata untuk mencari keuntungan semata. Pengalaman pahit itulah yang membuat Kartini menjadi srikandi yang beridelogi tegas dan radikal.

Kehidupan dan pemikiran mereka yang “bebas” membuat Hasan melabeli mereka sebagai "kafir modern". Label yang membuat Hasan menggebu-gebu ingin segera kembali “mengislamkan” mereka.

Hasan bertarekat namun tidak memiliki fondasi yang kuat untuk imannya. Celaka baginya amalan yang dia lakukan tidak didasari oleh ilmu dan guru yang bisa menjelaskan dalilnya. Amalan  yang pernah Hasan lakukan misalnya puasa7 hari 7 malam, mandi di sungai Cikapundung 40 kali dalam semalam dan mengurung di dalam kamar selama 3 hari 3 malam tanpa  makan serta berbicara.

Niat untuk “mengislamkan kafir modern” itupun berkahir sia-sia. Argumen-argumen Rusli meruntuhkan fondasi rapuh Hasan.
Agama dan Tuhan adalah bikinan manusia Akibat dari suatu keadaan masyarakat  dan susunan ekonomi pada suatu zaman yang tidak sempurna.Apabila manusia telah sampai  puncak kemajuannya, dimana manusia sudah merasa senang dengan keadaanya yaitu apabila segala kebutuhannya lahir batin sudah bisa terpenuhi semua, maka pada saat itulah  manusia tidak akan butuh lagi kepada agama, tidak perlu lagi meminta-minta tolong pada sesuatu Tuhan atau Yahwe atau apa saja. (hal. 79)
Atau ucapan Anwar yang mengutip Karl Marx bahwa "Tuhan adalah madat bagi manusia."

Jiwa Hasan terombang ambing. Batin Hasan terbolak balik.
Pikiran dan pandangan Hasan yang setengah-setengah  tentang dogma dan fanatisme terbentur pandangan baru tenang materialisme komunisme.
Hasan yang tadinya rajin sembahyang kini ingkar.
Hasan yang tadinya mengharamkan bioskop, kini penonton setia.
Hasan pun berubah, Tuhan tidak lagi bersemayam dalam imannya.

Dalam novel Atheis ini, Achdiat K. Miharja lebih menekankan pada karater tokoh dalam cerita. Agak berbeda jika kita membandingkan dengan karya-karya Pramoedya yang banyak menggambakan dengan details suasana atau kondisi dalam alur cerita.
Atheis, lebih banyak membawa kita pada pergolakan sosial, intelektual dan psikologis dari  tiap tokoh. Dimana kita bisa merasakan kegalauan batin Hasan, kuatnya cita- cita politik Rusli, kebangkitan Kartini dari pengalaman pahitnya dan juga karakter anarkisme seperti Anwar.

Meskipun kuat dalam penokohan, bukan berarti dinovel ini kita tidak bisa merasakan suasana dan kondisi jaman kolonialisme Jepang. Serangan udara, raungan sirine serta  teriakan “Kusyu Keiho! Kusyu Keiho” yang terdengar dilangit Bandung -benar membawa kita pada imajinasi perang.

Meski terjadi kontroversi atau sanggahan baik dari pihak Islam maupun Marxisme mengenai tokoh fiksi novel berbanding kondisi aktul. Tetap saja menurut saya novel Atheis sangat layak untuk diapresiasi.

Pada akhirnya tidak berlebihan pendapat  penulis Ahmad Tohari yang mengatakan  bahwa Novel Atheis adalah salah satu monumen sastra Indonesia.  Novel yang seharusnya  dibaca ulang oleh masyarakat Indonesia selain untuk menambah wawasan kesusastraan, juga sebagai bahan refleksi dimana saat kids jaman now seolah alergi terhadap dunia politik.
Novel Atheis: Potret Kegelisahan Sosial dan Intelektual “Pemuda Jaman Old” Novel Atheis:  Potret Kegelisahan Sosial dan Intelektual “Pemuda Jaman Old” Reviewed by Irwan Sukma on Friday, December 08, 2017 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.